Pidato Perdana Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB 2025: Suara Kuat Indonesia untuk Perdamaian Dunia
Oleh:
MYR Agung Sidayu
Yayasan Pendidikan Indonesia
Special consultative status in ECOSOC
United Nations.
Pendahuluan.
Pada Selasa, 23 September 2025, pukul 09.00 waktu New York (20.00 WIB), Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pidato perdananya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80, New York, Amerika Serikat. Berbicara sebagai pembicara ketiga dalam sesi Debat Umum setelah Presiden Brasil #LuizInácioLuladaSilva dan Presiden Amerika Serikat #DonaldTrump, Prabowo menandai kembalinya kehadiran presiden Indonesia di forum bergengsi ini setelah hampir satu dekade absen. Pidato berdurasi 15 menit ini, meskipun sempat terhenti akibat mikrofon mati karena aturan waktu PBB, berhasil mencuri perhatian dunia dengan nada tegas, emosional, dan komitmen kuat Indonesia terhadap perdamaian global, khususnya isu Palestina.
Isi Utama Pidato.Fokus pada Perdamaian dan Keadilan Global .
Pidato Presiden Prabowo mengusung tema besar reformasi multilateralisme, peran Global South, semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung, dan solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Berikut adalah poin-poin utama dari pidatonya:
- Kecaman terhadap Krisis Kemanusiaan di Gaza
Prabowo membuka pidatonya dengan kritik keras terhadap “genosida” di Gaza, menyoroti puluhan ribu korban sipil, terutama perempuan dan anak-anak, akibat serangan militer Israel. Dengan penuh emosi, ia menyebut situasi ini sebagai “bencana di depan mata” yang menuntut tindakan segera dari komunitas internasional.
“Dunia tidak boleh lagi menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina,” tegasnya, sambil memukul podium untuk menegaskan urgensi. Ia juga menyinggung serangan Israel ke Qatar sebagai eskalasi yang memperburuk ketegangan regional.
- Dukungan Tegas untuk Solusi Dua Negara .
Mengacu pada Resolusi PBB 242 dan Deklarasi New York (12 September 2025), Prabowo menegaskan komitmen Indonesia terhadap solusi dua negara, dengan Palestina dan Israel berdampingan berdasarkan perbatasan 1967. Ia memuji Deklarasi New York sebagai “jalan adil menuju perdamaian” dan mendesak pengakuan internasional terhadap Palestina sebagai negara berdaulat. “Pengakuan terhadap Palestina bukan pilihan, melainkan keharusan sejarah,” ujarnya, menegaskan bahwa solusi ini adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi di Timur Tengah.
- Langkah Diplomatik Berani: Pengakuan Timbal Balik .
Dalam pernyataan yang mengejutkan, Prabowo menyatakan kesiapan Indonesia untuk mengakui Israel sebagai negara berdaulat, dengan syarat Israel terlebih dahulu mengakui kemerdekaan Palestina. “Setelah Israel mengakui kedaulatan Palestina, Indonesia akan segera mengakui Israel dan mendukung jaminan keamanannya,” katanya. Pernyataan ini memicu beragam tanggapan di dalam negeri, dengan sebagian pihak memuji keberanian diplomatiknya, sementara yang lain mempertanyakan kesesuaiannya dengan UUD 1945.
- Kontribusi Nyata Indonesia untuk Perdamaian
Prabowo menawarkan kesiapan Indonesia mengirim pasukan penjaga perdamaian di bawah mandat PBB untuk menjaga stabilitas pasca-konflik di Palestina. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya berbicara, tetapi siap bertindak nyata demi perdamaian. Selain itu, ia menyinggung visi Asta Cita, yang mencakup reformasi tata kelola dunia yang lebih inklusif bagi negara-negara berkembang, serta semangat Bandung sebagai landasan diplomasi Indonesia.
- Penutup yang Menggugah .
Pidato ditutup dengan seruan emosional: “Kita butuh perdamaian itu sekarang! Perdamaian segera!” Prabowo mengajak dunia untuk menghentikan kekerasan dan membuka dialog, diiringi tepuk tangan meriah dan standing ovation dari para delegasi, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Konteks dan Dampak Global .
Pidato ini disampaikan di tengah momentum pengakuan internasional terhadap Palestina, dengan enam negara mengumumkan pengakuan pada hari yang sama. Absennya Israel dan AS dari konferensi terkait solusi dua negara membuat suara Prabowo sebagai perwakilan #GlobalSouth semakin bergema. Ketua DPR RI Puan Maharani menyebutnya sebagai “momen bersejarah,” sementara diaspora Indonesia di New York menyambutnya dengan antusiasme. Insiden mikrofon mati, yang sempat menjadi sorotan, dijelaskan Kementerian Luar Negeri RI sebagai prosedur standar PBB untuk menjaga efisiensi sesi.
Relevansi bagi Indonesia dan Dunia .
Pidato Prabowo tidak hanya memperkuat posisi Indonesia sebagai aktor penting di panggung global, tetapi juga menegaskan komitmennya terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Dengan nada yang tegas namun penuh empati, ia berhasil menyuarakan aspirasi Global South dan menegaskan peran Indonesia dalam diplomasi perdamaian. Berbagai kalangan, termasuk PPJNA 98, memuji Prabowo sebagai “presiden kelas internasional” yang membawa kebanggaan bagi bangsa.
Kesimpulan.
USULAN PRABOWO INITIATIVES
Pidato perdana Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB 2025 telah mencatatkan sejarah baru bagi Indonesia. Dengan fokus pada solusi dua negara, kecaman terhadap krisis kemanusiaan, dan tawaran kontribusi nyata, Indonesia menegaskan perannya sebagai penjaga perdamaian dunia.
Yayasan Pendidikan Indonesia mengusulkan agar Presiden Prabowo menginisiasi implementasi solusi dua negara dengan memimpin pembentukan koalisi negara-negara Global South untuk mendorong pengakuan timbal balik antara Israel dan Palestina, sebagaimana ia usulkan dalam pidatonya. Langkah ini dapat mencakup diplomasi aktif di forum PBB, pengiriman pasukan perdamaian, dan pembentukan dialog multilateral untuk menjamin stabilitas dan keadilan di Timur Tengah.
Dengan semangat Bandung dan visi Asta Cita, Indonesia dapat memimpin dunia menuju perdamaian yang berkelanjutan. Yayasan Pendidikan Indonesia juga mengajak masyarakat untuk mendukung visi ini melalui pendidikan berbasis kemanusiaan dan solidaritas global guna mewujudkan dunia yang lebih adil dan damai.



